Buku Hamil

Buku Hamil
Buku Cara Cepat Hamil

Sunday, April 11, 2010

Film Pun Antre

Hotel di Pangandaran - Salah satu masalah klasik dalam perfilman Indonesia adalah soal distribusi film. Disebabkan jumlah layar yang terbatas, film Indonesia harus antre untuk mendapatkan kesempatan diputar. ”Kami mesti antre untuk mendapatkan tanggal putar di bioskop 21. Film saya, The Sexy City, sudah selesai enam bulan lalu, tetapi baru diputar sekarang. Untuk usaha, itu sudah tidak sehat,” tutur produser Ferry Anggriawan dari Virgo Putra Film.

Pangandaran -Hal senada diungkapkan produser Manoj Punjabi dari MD Pictures. Karena jumlah layar yang kurang, ia kesulitan mem-booking tanggal putar di bioskop 21. Apakah distribusi film harus melalui kelompok 21? ”Ah, tidak juga. Bisa saja sebenarnya kalau ada jaringan bioskop atau distributor lain. Tidak masalah,” kata Manoj.

Sementara para produser film di Jakarta antre mendapatkan jadwal putar, para operator bioskop non-21 di daerah harus antre berbulan-bulan untuk mendapat jatah memutar film-film Indonesia pilihan.

”Kami harus menunggu 2-4 bulan untuk bisa memutar film pilihan karena baru dapat jatah setelah Semarang dan Purwokerto. Giliran filmnya diputar, orang sini sudah telanjur nonton duluan di Yogya atau Semarang,” tutur Budianto, manajer bioskop Magelang Teater dan Tidar Teater di Kota Magelang, Jawa Tengah, dalam pertemuan dengan pengurus Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) di Semarang, Jumat (19/3).

Lebih banyak

Budianto, bersama rekan-rekannya pengelola bioskop lokal yang masih tersisa di Brebes, Tegal, dan Purwokerto, berharap agar jumlah copy film yang diedarkan ke daerah lebih banyak sehingga waktu tunggu putar film tidak terlalu lama. ”Kami juga minta diizinkan memutar film-film impor yang laris, seperti 2012 dan Avatar,” imbuh Budianto.

Sementara itu, Ferry, Manoj, dan para produser lain di Jakarta berharap agar jumlah layar diperbanyak. ”Jika produksi film sudah mencapai 150-200 film per tahun dan jumlah layar masih seperti sekarang, semua akan berantakan,” kata Ketua Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) Raam Punjabi.

Jimmy Harianto, salah satu pimpinan di Kelompok 21 Cineplex, mengatakan, saat ini sudah tidak ada lagi monopoli distribusi film melalui jaringan 21. ”Kalau sampai sekarang film-film Indonesia masih kami distribusikan sampai ke daerah-daerah, itu sifatnya membantu para produser karena mereka yang minta,” kata Jimmy, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi B BP2N itu.

Yuniarto, pimpinan PT Sanggar Film yang menjadi distributor film-film dari pihak 21 ke bioskop-bioskop lokal di seluruh Jawa Tengah, mengaku, uang hasil penjualan tiket dari bioskop-bioskop ini langsung ia setorkan kepada para produser, tidak melalui kelompok 21 lagi. ”Kadang para produser juga langsung menghubungi saya untuk mengedarkan film mereka, seperti Virgo atau StarVision,” ungkap Yuniarto.

Mengenai usulan agar Kelompok 21 memecah jaringan bioskopnya menjadi dua atau tiga jalur sehingga peluang untuk memutar lebih banyak film Indonesia lebih besar, Jimmy menjawab, ”Kami tidak hanya membuka 3 line, tetapi bahkan 4 line, karena empat-empat-nya (di bioskop yang memiliki empat layar) memutar film Indonesia semua,” paparnya.

No comments:

Post a Comment